Buleleng-Blambangan : Serendipity.

Benar kata orang-orang, bahwa sekali kita melakukan perjalanan, maka hal itu akan menjadi candu, bisa membuat kita ketagihan, dan rindu.

9

Hampir setahun yang lalu, saya dan Komang aka Omen, sahabat saya yang kebetulan pengangguran, merasa perlu untuk melakukan sedikit penyegaran, dari kepenatan dari rutinitas sehari-hari kami : nganggur. Entah teori dari mana, sejak jaman kami SMP, kami percaya bahwa ketika kita merencanakan sesuatu dengan amat sangat detail dan terlalu matang, maka persentase dari rencana tersebut untuk batal semakin meningkat. Jadi kami memutuskan, seseorang datang dengan satu ide, dan akan dieksekusi secepatnya. Dan saya datang dengan ide untuk melakukan perjalanan darat menggunakan si Merah, mobil kesayangan saya untuk melakukan camping di Baluran, dengan alasan, Baluran itu keren, dan (relatif) dekat dari rumah.  Perlu diketahui, pulau Bali itu amat sangat kecil, dan ketersediaan segala hal di pulau ini membuat banyak dari kami muda mudi Bali merasa tidak perlu pergi jauh dan memilih untuk tetap tinggal di Bali jika hanya untuk menikmati hidup. Bahkan jarak tempuh Singaraja-Denpasar yang 120km pun, oleh sebagian besar orang dianggap “perjalanan jauh”.  Dan melakukan perjalanan (khususnya darat) menggunakan kendaraan pribadi ke luar pulau, adalah suatu hal yang luar biasa, literally di luar kebiasaan pemuda-pemudi Bali kebanyakan. Untuk rencana ini, kami tidak membuat itinerary yang mendetail. Yang kami lakukan hanya membuat rencana sederhana, bahwa kami akan pergi mengunjungi Baluran, berkemah di sana 1 malam dan kemudian kembali keesokan harinya. Kami menghitung uang yang kami miliki, dan membeli perbekalan serta mulai menyiapkan alat-alat yang kami rasa perlu untuk melakukan perjalanan dan kemah. Wulan, pacar si Omen memutuskan ikut, tambahan personel, jadi ada 1 orang perempuan yang membantu kami menyiapkan semuanya dan meramaikan perjalanan.

Kurang dari seminggu sejak pertama direncanakan, akhirnya perjalanan dimulai. Ransum dan peralatan sudah diunggah ke si Merah, Playlist di Media Player sudah dicocokan agar selama perjalanan kami serasa di soundtrack film semacam 3 hari untuk selamanya. hehehe

3
si Merah

Setelah kurang lebih 2 jam berkendara dari kota Singaraja ke arah barat, kami akhirnya sampai di Pelabuhan penyeberangan Gilimanuk. Kami harus melewati tahap-tahap umum, membeli tiket penyeberangan untuk kendaraan roda 4, cek kendaraan sebelum akhirnya masuk ke kapal ferry.  Jarak antar 2 pelabuhan di 2 pulau ini tidaklah jauh. Hari itu cuaca sangat bersahabat dan kami butuh waktu kurang dari 1 jam untuk menyeberang.

1211150905000000380031150905000000380033150905000000380034

Turun di pelabuhan Ketapang, hal yang paling tidak terduga dan tidak kami harapkan terjadi. MACET. yap, Jalur kendaraan dari arah Situbondo menuju Ketapang mengalami kemacetan parah, karena sedang dilakukan inspeksi kelayakan  kapal Ferry dan banyak kapal yang harus “diparkir” dan tidak beroperasi sehingga banyak kendaraan terutama truk-truk besar yang ingin menyeberang ke Bali harus antre berjam-jam lamanya. Jalur kendaraan dialihkan. Hari sudah semakin siang, dan kami takut akan sampai di Baluran terlalu sore. Setelah menghubungi seorang kawan asli Banyuwangi, dia mengatakan bahwa kemacetan seperti ini biasanya terjadi berhari-hari. wis, sudah kepalang basah, kami memutuskan untuk lanjut saja. Polisi meminta kami untuk tidak belok ke kanan. Jadi kami memutuskan untuk mencari jalan tikus yang sialnya banyak kendaraan yang melakukan hal yang sama. setelah beberapa jam, akhirnya kami bisa masuk kembali ke Jalur utama, yang setelah beberapa kilometer kami dapati bahwa kemacetan hanya terjadi di jalur ke arah Pelabuhan yang memang cukup parah (kurang lebih 20km lebih panjangnya) , untuk jalur sebaliknya, hanya tersendat karena beberapa kendaraan yang bandel mengambil jalur kami. Selanjutnya? Kami bawa happy saja, sambil menikmati perjalanan sembari menyanyi di dalam mobil.

35

Kami tiba di Baluran sekitar jam 2.30 siang. Setelah beristirahat beberapa menit di loby / bagian informasi, kami akhirnya berkendara masuk ke areal taman nasional. Beruntung yang kami kendarai adalah si Merah, keperkasaanya melewati jalur tanah sudah tidak diragukan lagi. Dijamin, kalian akan menyesal jikalau mobil yang kalian kendarai adalah city car atau sedan keluaran baru. Namun walaupun jalan berliku, berkerikil dan banyak lubang, mata, hati dan pikiran akan termanjakan oleh pemandangan kiri kanan jalan. Setelah hampir beberapa puluh menit berkendara, akhirnya kami berdua sampai di jantung Taman Nasional Baluran, yaitu Savana Bekol. Pusat Informasi, Toilet, Cottage serta warung ada di tengah-tengah savana ini untuk membantu para pengunjung yang datang. Setelah melihat berbagai informasi, sangat disayangkan bahwa pengunjung tidak diijinkan untuk melakukan kegiatan perkemahan di areal Taman Nasional karena masalah keamanan, tentunya dari binatang-binatang yang hidup di sana. Ingat tentang warung, hal pertama yang kami lakukan adalah makan siang agak sore, karena kami yang terlalu menikmati perjalanan sampai kami lupa untuk makan siang. Setelah itu kami berkeliling, melihat-lihat, mengambil gambar dan melakukan hal-hal menyenangkan sperti turis yang lain lakukan . Rencana awal setelah Savana Bekol, kami berencana mengunjungi Pantai Bama yang secretly famous itu, hanya sayang, setelah melihat jam, kami akan kehabisan waktu, belum lagi kami harus menyiapkan tenda di luar area Taman Nasional. Jadi yang kami lakukan hanyalah berkeliling di Savana dan memutuskan untuk kembali keluar area Taman Nasional pukul 5 sore.16

202721

22
sampe kalian mau nikah, foto pre-wedd kalian sudah lebih dari cukup sob.

263337150905000000380018

Ternyata, mencari camp site di sekitaran taman nasional itu tidaklah mudah. Oleh penduduk kami ditunjukan sebuah tanah lapang, dan setelah kami dekati ternyata adalah area pemakaman. Sontak saja satu-satunya wanita di grup ini menolak untuk berkemah disana. Hari semakin gelap, dan pilihan terakhir jatuh pada penginapan di sekitar Taman Nasional, yang dikelola oleh penduduk lokal, dan harga pun sangat ok (Rp.50 ribu semalam adalah deal yang kece)  ditambah pemilik penginapan (rumah pribadi yang disewakan, semacam airbnb) pun sangat ramah dan baik hati serta fasilitas yang bersih dan rapi.

Serendipity.

ulan

Hari kedua, kami berencana balik ke Singaraja. Dan kami sepakat untuk tidak kembali melalui jalur utama Situbondo-Banyuwangi, karena takut terjebak macet. Akhirnya kami sepakat untuk putar balik ke arah kota Situbondo, belok kiri ke Bondowoso dan lewat jalur tengah, melewati Ijen, Kalibendo, dan turun menuju kota Banyuwangi.

Sebenarnya, perjalanan pulang inilah yang lebih berkesan kepada kami dibandingkan di Taman Nasional Baluran sehari sebelumnya. Seperti biasa, kami menikmati perjalanan dengan ceria, dan memutuskan untuk singgah sebentar di Kota Bondowoso. Setelah beberapa jam perjalanan, kami sempatkan diri makan Bakso di Bondowoso, membeli Tape, serta isi bensin sebelum lanjut ke arah timur menuju Banyuwangi melalui Ijen. Setelah beberaa kilometer jalan yang landai, kami mulai memasuki jalan tanjakan, udara semakin terasa sejuk, dan pemandangan semakin bagus, dan kektika kami mulai keluar dari pemukiman penduduk, kami masuk ke sebuah hutan pinus yang sepertinya terpelihara cukup baik, namun tidak banyak orang yang berhenti disana. Kami memarkir mobil kami, mengambil kamera serta melakukan sedikit penjelajahan di dalam hutan tersebut. Setelah merasa cukup, kami melanjutkan perjalanan, kami bertemu dengan beberapa buruh tani yang sedang melakukan panen kopi dan memuat hasil panen tersebut ke atas truk. Mereka begitu ramah, dalam kesederhanaan, khas orang desa. Selain itu juga, selama perjalanan  kami disuguhkan pemandangan indah dataran tinggi. beberapa kilometer setelahnya, kami akhirnya tiba di  Kalisat, sebuah kampung wisata yang adem, dengan kebun kopi yang luas yang dikelola oleh PTP Nusantara yang memanjakan mata kami dengan pemandangan yang sangat jarang bisa kami lihat. Penataan kampungnya juga sangat rapi, ada homestay dengan fasilitas yang lebih dari cukup, dan paket-paket wisata agro yang sangat menarik. Benar-benar  Serendipity, kami merasa sangat bahagia melewati jalur ini untuk pulang.

Setelah bersantai sejenak sambil menikmati makan siang di Kalisat, kami akhirnya melanjutkan perjalanan ke arah Ijen. Tapi kami sempat berhenti sejenak untuk mengambil beberapa foto dan menikmati keunikan kali pait. Dari aroma airnya, jelas sudah kenapa sungai ini dinamakan Kali Pait. Kami memutuskan untuk tidak singgah ke Kawah Ijen, karena kami sudah merasa cukup disuguhi keindahan selama perjalanan sebelumnya, disamping kami sudah mulai kehabisan ransum, serta tenaga, dan kami harus segera pulang kembali ke Singaraja. Perjalanan dari Ijen ke Banyuwangi pun tak kalah keren. Kabut sepanjang perjalanan sampai Kalibendo, turun kiri kanan dipenuhi kebun cengkeh serta kopi milik penduduk. Sampai Banyuwangi sudah terlalu sore, jadi kami langsung saja meneruskan perjalanan ke Pelabuhan Ketapang. Ternyata, jalan raya Situbondo-Ketapang sudah tidak mengalami kemacetan karena sudah mampu diurai sepanjang malam, tapi kami tidak pernah menyesali jalur pulang yang kami pilih.

1509050000003800161509050000003800152829497496498499493500150905000000380010503494

 

Advertisements

2 thoughts on “Buleleng-Blambangan : Serendipity.

  1. Seru juga perjalanannya. Kedai kedai itu jika siang hari aja ya? Kok bisa ada warung ya di taman Nasional ditengah tengah pulak. Kalo toilet sih agak maklum, terus kalo ada kedai pasti ada sampah dong, gimana tuh ngelolanya mereka..? Salam kenal, lagi bw terus dapatnya link ini dari dewinielsen.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s