St. George : Rumah Singgah

Kota kecil ini bernama St. George, luasnya tidak lebih besar dari sebuah lapangan bola, dan jaraknya sekitar 600km sebelah barat dari kota Brisbane. Dan untuk beberapa bulan di musim dingin, tempat inilah yang akan menjadi rumah (singgah) saya.

04990029

Setelah beberapa hari menghabiskan waktu di kota Melbourne dan kota Brisbane serta Toowoomba, akhirnya di minggu ke 3 saya di Australia saya memutuskan berpindah tempat lagi, berbeda dengan hingar bingarnya dua kota yang saya sebut di atas, kali ini saya akan pindah ke satu kota yang maha kecil di pedalaman Queensland. Perjalanan kali ini saya tempuh melalui jalan darat dengan mobil. Dari Brisbane, saya singgah dan camping semalam di kota Toowomba, perjalanan ke barat di mulai pagi sekali. Suhu sangat dingin, dan saya berhenti sejenak di kota Dalby, 70 km dari dari kota Toowomba untuk sekedar sarapan dan membeli kopi. Dari Toowoomba, jarak yang harus saya tempuh kurang lebih 450km, dan dalam perjalanan saya sadar, melakukan roadtrip di Australia itu amat sangat berbeda dengan melakukan roadtrip di Indonesia, khususnya Jawa. Di pulau Jawa, jarak antar kampung relatif berdekatan, bahkan ketika kita memasuki areal taman nasional sekalipun, kita akan dengan sangat mudah menemukan rumah penduduk bahkan warung untuk sekedar beristirahat dan membeli cemilan. Sementara di Australia, dari kota Toowoomba ke St. George sendiri, hanya ada 2 kota yang saya lewati, yaitu Dalby, sebuah kota kecil 70 km dari Toowoomba, dan Moonie, sebuah lingkungan persinggahan ( karena memang bukan kota) dengan 1 roadhouse, rest area, dan beberapa rumah serta campsite, sebelum akhirnya sampai di st. George. Dan di antara 2 kota ini, jangankan warung, rumahpun tidak saya lihat keberadaanya, hanya beberapa farm house yang berjarak puluhan kilometer antara yang satu dan yang lainnya, dan itupun berada lumayan jauh dari pinggir jalan raya. Berkendara dengan kecepatan 110km/jam bukanlah hal yang mustahil, hanya saja, mata harus tetap awas karena sesekali seekor atau beberapa ekor kangguru bisa dengan tiba-tiba melompat dan berdiri diam tepat di depan mobil saya. ( bemper depan mobil saya rusak lumayan parah setelah menabrak seekor kangguru berukuran sedang dalam kecepatan 100km/jam)

0499001604990025049900230499002404990019049800100498001104970035

Saya tiba di kota St. George sekitar pukul 13.00. Melakukan putaran keliling kota yang kurang dari 5 menit. kota ini memang sangat kecil, hanya ada 1 pub, 2  supermarket, 1 bakkery, 1 toko elektronik, serta beberapa cafe bengkel, bank, perpustakaan  serta fasilitas umum. Tapi sebagai pemanis, kota ini dilewati oleh sebuah sungai yang cukup besar dengan pinggirannya ditata rapi dan dijadikan taman oleh penduduk sekitar. Mungkin di Indonesia saya tidak akan menyebut tempat ini sebagai kota, melainkan sebuah kampung, yang lengkap. hehehehe. Setelah berkeliling, saya berhenti sejenak untuk mengisi bensin sebelum akhirnya menelpon Tom, manajer farm  yang akan menjadi atasan saya, mengenai tempat tinggal yang akhirnya saya ketahui berjarak 40 km dari kota st. George. Saya melanjutkan perjalanan menuju farm office. Bertemu dengan Tom, sedikit obrolan tentang pekerjaan dan beberapa obrolan basa basi, dan saya akui, orang-orang yang tinggal jauh di pedalaman ini adalah orang-orang yang ramah, ceplas-ceplos dan asik. Dengan sapi-sapi dan kuda serta peralatan peternakan yang tersebar di areal farm, mau tidak mau membuat saya mengingat tentang cowboy Texas dengan jeans, rompi kulit, topi bulat serta kuda yang saya tonton di film-film, hanya saja dengan aksen yang sangat berbeda. Untuk pemondokan, saya disediakan rumah olah perusahaan yang masih berada di areal Farm. sekitar 6 km dari kantor yang serunya adalah dari feedlot (jenis farm tempat saya bekerja) menuju rumah adalah jalan tanah.

04980025

Rumah yang saya tempati memang seperti rumah kebun yang saya bayangkan, sebuah rumah kecil berbahan kayu, yang berada entah dimana. untungnya, segala perabotan dapur, elektronik, serta listrik sudah lengkap tersedia, hanya saja di tempat ini tidak hanya sinyal handphone, bahkan untuk provider sekelas Telstra sekalipun. untungnya, di sebelah rumah ada sebuah cottage mewah yang dimiliki oleh pemilik dari farm tempat saya bekerja sekarang, dan disana terdapat Signal Booster, dan sekali waktu sinyanya bisa sampai di kamar saya, walaupun hanya 1 atau 2 bar. dan hanya cukup untuk sms dan kadang-kadang  whatsapp atau line. untuk browsing internet, saya harus mendekatkan diri ke cottage si bos yang sampai sekarang 3 bulan saya tinggal disini, tidak pernah ditinggali, hanya sekali waktu dikunjungi untuk sekedar makan siang.

Beberapa jam setelah saya sampai, akhirnya datang Bryant, seorang backpacker lain dari Taiwan yang akan menjadi housmemate dan juga rekan kerja saya. Setidaknya ada teman ngobrol di rumah yang tak bertetangga ini.

04970029

Akhirnya, yang bisa kami lakukan hanyalah menikmati waktu kami disini. Belajar bahasa, aksen dan budaya manusia-manusia lain yang lahir dan tumbuh di lingkungan dan adat yang berbeda dengan saya. Memelihara dan memberi makan 1500 ekor sapi, belajar mengoperasikan mesin pengaduk makanan sapi yang mana sekali aduk mencapai 12 ton dengan takaran yang sesuai untuk 1 kandang, mengoperasikan traktor yang bahkan ukuran Ban-nya lebih tinggi dari saya, mengoperasikan ekskavator untuk membersihkan kotoran sapi di kandang untuk dijadikan pupuk untuk grain farm yang juga dimiliki oleh perusahaan tempat saya bekerja, dan bahkan mengendarai truk Volvo F10 series. Ada banyak sekali hal baru yang saya dapat disini.

Saya percaya bahwa sejatinya manusia itu terus bergerak, baik secara fisik dan mental. Dan perubahan-perubahan bisa muncul dari pergerakan-pergerakan ini. Hati dan pikiran yang semakin terbuka, kepala yang makin terisi, serta roll film yang terus saya bakar untuk mengabadikan pergerakan-pergerakan ini. Saya beruntung mengambil  jalan yang saya pilih dan jalani sekarang.

049800300498003404970028049800280498003604980037049800160498001404980015049700110498003304970014049700130497000504970008049700090497001004970007049700160497000104980024

Advertisements

14 thoughts on “St. George : Rumah Singgah

    1. Halo, salam kenal juga Atika.
      Iya, roadtrip, nyari kerja sama ketemu orang2 di Oz dengan WHV emang pengalaman hidup yang kece, hehehe
      Makasi, itu pake kamera analog / film kok. Yang DOF nya kental itu pake Pentax SP diisi film Fuji Superia 200, yang ada tanggalnya pake Pentax Espio Mini Zoom diisi Kodak Gold 200, sisanya pake kamera poket Canon AF35M diisi film Fuji Superia 200 juga.
      Semoga bisa menikmati 😀

      Like

  1. Hi mas Made. Salam kenal.
    Seneng banget baca postingan ini!
    Bisa kerja di farm kota kecil sudah masuk salah satu bucket list saya.
    Sekarang saya ada di Melbourne.

    Jika tidak keberatan, boleh saya tanya apakah pekerjaan ini mas dapat dari agency, atau ada Web untuk applynya? Many thanks before and keep posting!

    Like

  2. Hi mas Made, salam kenal.
    Seneng banget baca postingan ini!
    Bisa kerja di farm kota kecil sudah masuk salah satu bucket list saya. Sekarang saya ada di Melbourne.

    Jika tidak keberatan, boleh saya tanya apakah pekerjaan ini mas dapat dari agency, atau ada Web untuk applynya? Many thanks before and keep posting!

    Like

    1. Halo Stella.
      Ikut seneng juga ada yang seneng baca postingan saya , hehehe. Sekarang di Melbourne kerja apa? Ayo ke farn, seru lho. Kemarin dapet kerjaan di agrilabour.com.au , agency yang kece tuh. Sering posting lowongan di grup whv kok.
      Sering-sering mampir ya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s