Analog Wabi-Sabi

FH000038

“Time is kind to things, but unkind to man.”

Ketika berfikir tentang Jepang, ini adalah salah satu proverb yang saya suka. Saya bisa membaca bagaimana orang Jepang menghargai sebuah karya dari kata-kata tersebut. Sebagai seorang penghobi fotografi, karya-karya fotografer Jepang sering menjadi inspirasi saya dalam membuat karya. Bukan tanpa alasan, tapi ketika saya melihat karya-karya yang dibuat oleh orang Jepang, bukan hanya di bidang fotografi, tapi juga di bidang yang lain, saya dapat melihat satu karakter yang sangat jelas, yang seperti memberitahu saya bahwa ini adalah hasil karya dari Negeri Sakura. Dari apa yang saya lihat, hampir semua orang Jepang berpegang teguh pada estetika-estetika kehidupan yang dibentuk oleh sistem yang sudah lama ada, yang direpresentasikan ke dalam karya-karya yang berkarakter, simple, berguna dan penuh makna. Ada banyak falsafah hidup yang dipegang oleh orang jepang,  Bushido / 武士道 (cara hidup seorang ksatria) atau Natsukashii Furusato (kerinduan yaang kuat kepada kampung halaman) adalah beberapa contoh falsafah yang membentuk karakter orang Jepang yang sekarang . Ada banyak hal yang bisa diinterpretasikan dari cara berkomunikasi orang Jepang, tapi satu hal yang bisa saya tangkap adalah bahwa orang Jepang adalah orang-orang yang teratur, sangat menghargai waktu, lebih mementingkan fungsi dan rendah hati. itulah sebabnya kebanyakan karya-karya orang jepang (baik itu karya seni, arsitektur, keramik, serta karya yang lain ) terpelihara dengan sangat baik. Bukan hanya dijadikan sebagai bahan pajangan di museum atau aset yang bisa dijual kepada turis. Tapi warisan-warisan tersebut dijaga sebagai refleksi diri, atas diri mereka dan bagaimana mereka bisa sampai di titik ini.Sebuah penghormatan yang luar biasa kepada hal-hal yang sudah ada begitu lama, dan sudah dibentuk oleh tempaan waktu. Seuah kesadaran yang luar biasa bagaimana waktu bisa memeberikan pelajaran yang sangat berharga, bahkan dalam bentuk hal-hal yang sederhana sekalipun.

FH020014FH020022FH000081

Wabi-Sabi jika diterjemahkan secara sederhana bisa bermakna Beauty in simplicity. Tapi ketika kita masuk lebih jauh, bahkan sebagian orang Jepang pun tidak bisa memberikan definisi yang pasti dari kata ini. bahkan Daisetz T. Suzuki, seorang ahli bahasa yang turut berperan aktif menginterpretasikan budaya Jepang ke dunia barat, mengatakan bahwa Wabi-Sabi adalah salah satu bentuk estetika penghormatan terhadap kemiskinan, bukan kemiskinan seperti yang kita bayangkan atau takutkan, tapi lebih kepada bagaimana kita bisa melepaskan diri dari materialisme yang tidak perlu, bagaimana kita bisa hidup sederhana dan berkecukupan tanpa dikuasai keserakahan. Wabi-Sabi sendiri adalah gabungan dari 2 kata yang penggunaan awalnya diterapkan oleh penganut aliran Zen Budhism. Wabi sendiri berarti  bisa bermakna Kesederhanaan, bebas dari keserakahan, rasa marah, dan merasa nyaman menjadi dirinya sendiri. Sementara Sabi bisa bermakna the bloom of time. artinya, bahwa segala hal tidak akan lepas dari yang namanya usia, dan tumbuhnya kesadaran bahwa setiap hal yang sudah ditempa waktu dan termakan usia, memiliki ceritanya sendiri. memiliki keindahan dalam setiap goresan-goresan dan retakan-retakan yang disebabkan oleh waktu. dan akhrnya muncul istilah Wabi-Sabi, melihat kecantikan dari satu hal yang sederhana.

photo 1(14)

Fotografi adalah satu kegiatan dimana kita merekam hari ini dan dilihat di masa depan. Ada banyak alasan nostalgia kenapa orang-orang mengambil sebuah foto. Bahwa kita bisa sedikit “menipu” waktu dengan fotografi, bahwa kita bisa melihat masa lalu, adalah salah satu alasan kenapa saya menyenangi kegiatan ini. Dan Wabi-Sabi pula menjadi salah satu alasan kenapa saya memilih fotografi analog. Bukan berarti saya anti modernisasi dengan bermacam teknologi yang ditawarkan, tapi lebih kepada penghormatan saya kepada proses. Ya, Proses, bahkan dengan cara yang amat sangat tuapun kita masih bisa membuat sebuah foto. Melalui fotografi analog, saya bisa memahami proses pengambilan gambar yang bisa saya lihat dengan sederhana. Bagaimana pantulan cahaya bergerak ke arah kamera, menembus lensa dan akhirnya sampai di lembar-lembar seluloid yang kemudian memunculkan reaksi kimia yang bisa membentuk sebuah citra, segera stelah lembar seluloid itu diproses oleh tangan-tangan ahli menggunakan bahan-bahan kimia yang diracik juga oleh tangan-tangan ahli. Bagaimana secara fisik, peralatan fotografi analog bisa bertahan menembus waktu, dan masih bisa menghasilkan foto-foto yang bisa membuat kita terinspirasi ketika melihatnya. Setiap orang dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang begitu beragam di depan mereka. dan karakter serta sudut pandang merekalah yang menentukan arah selanjutnya yang akan mereka tempuh. Saya mengagumi bagaimana sebuah gambar bisa tercipta dari benda yang “sederhana”, sudah melihat banyak hal karena berusia lebih tua dari saya, tapi masih bisa menghasilkan karya-karya yang bisa memberikan berbagai macam kesan kepada setiap orang yang melihatnya, setiap orang yang muncul dari berbagai generasi waktu. sebuah alasan, bahwa Wabi-Sabi adalah sebuah cara kita melihat dan menghargai sesuatu, dan menikmati kesempurnaan mereka dalam kesederhanaan.

FH010032FH000021FH000023FH000024

FH000031FH000030FH020021FH000085FH020031FH000024FH000028FH010023FH000028FH000008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s