Akhir tahun di Kota Bima

150221000000500037

Tepat satu tahun yang lalu salah satu sahabat saya Zenith Syahrini, seorang biduan dari sebuah band duo dari Denpasar, Pygmos, seorang perempuan muda  dengan suara merdu yang memiliki penggemar yang sangat militan serta kisah hidup yang ciyeable ini mengirimkan pesan kepada saya melalui messanger di ponsel. ” wi, libur akhir tahun ini kamu ada acara kemana? temenin aku ke Bima yuk, bawa buku buat anak-anak sekolahnya bang Alan, sekalian liburan” . Sontak saja saya mengiyakan ajakan itu. itung-itung merefresh otak setelah sebulan saya resmi menjadi pengangguran sekembalinya saya pergi merantau di negeri jauh. Hanya saja saya harus membeli tiket pesawat sendiri, sementara masalah akomodasi dan transportasi disana, akan dibantu oleh teman-teman yang ada disana. Setelah bertukar beberapa pesan dan mengatur jadwal perjalanan kami, akhirnya zenith membantu saya membeli tiket pesawat pulang-pergi Denpasar – Bima, dan berangkat ke Bima tanggal 28 Desember serta kembali ke Bali pada tanggal 1 Januari.

150221000000500035
Zenith mau naik pesawat
150221000000500028
persawahan di kota Bima

 

28 Desember 2014, penerbangan kami dijadwalkan jam 1 siang, jadi saya memutuskan berangkat agak pagi dari Singaraja, membawa 1 backpack kecil saya berangkat ke rumah Zenith di mangupura, Badung. setelah kurang lebih 2 jam perjalanan, saya akhirnya sampai di rumah Zenith untuk mengambil buku-buku yang akan didonasikan serta sekalian mengecek perbekalan kami yang memang tidak seberapa. Diguyur hujan selama perjalanan  sampai ke Bandara akhirnya kami sampai di counter cek in bandara Ngurah Rai dan selanjutnya menunggu di Boarding Lounge. Setelah mengalami penundaan selama 1 jam, akhirnya pesawat kamipun berangkat. Setelah kurang lebih 1 jam penerbangan, akhirnya kami tiba di Bandar Udara Sultan Muhammad Salahudin di Bima jam 2 siang. Di bandara, kami sudah ditunggu oleh Bang Alan, seorang supir bus dermawan yang menghabiskan waktunya untuk membangun  sekolah gratis di kampung halamanya di desa Tololai, kecamatan  Ambalawi, Bima, serta pak Mukhtar, seorang Pegawai Negeri Sipil di lingkungan kota Bima yang juga mebantu bang Alan dalam pengembangan pendidikan di kampung halaman Bang Alan .
dari Bandara kami memutuskan untuk langsung berangkat menuju sekolah Darul Ulum di Desa Tololai, jalur Lintas Wera untuk menyerahkan buku-buku pelajaran yang kami bawa. Dalam perjalanan Bima-Tololai kami disuguhkan dengan pemandangan yang menakjubkan. Bagaimana daerah perbukitan digunduli lalu kemudian ditanami aneka tanaman padi dan sayur-sayuran. Sebagian besar selama 1 jam perjalanan Bima-Wera pun kami diguyur hujan, sehingga kami hanya mampir sebentar di sekolah Darul Ulum untuk selanjutnya kembali ke kota Bima dan bermalam di rumah pak Mukhtar.

Bagi saya, kabupaten Bima, khususnya kota Bima adalah tempat yang sangat menarik. kabupaten ini merupakan kabupaten paling timur dari provinsi Nusa Tenggara Barat, dengan penduduk mayoritas muslim, Kota Bima menjadi kota yang sangat dinamis. Memiliki satu pelabuhan yang sangat besar yang menjadi penghubung kota Bima dengan kota lain di Indonesia. tapi yang paling menarik bagi saya adalah topografi kabupaten ini yang terdiri dari bukit-bukit serta teluk-teluk yang membuat kota ini memiliki keindahan yang magis.

150221000000500024
Belakang rumah pak Mukhtar

 

Balik ke cerita, malam itu kami menginap di rumah pak Mukhtar. Dijamu dengan sangat oleh keluarga ini membuat kami merasa sangat nyaman berada di kota ini. Pak Mukhtar juga berbaik hati meminjamkan kami sepeda motor untuk kami berjalan-jalan keliling Bima. Malam selanjutnya kami memutuskan untuk bermalam di Wera, kampung halaman Bang Alan yang memang ada di pinggir pantai. Perjalanan kali ini jauh lebih menyenangkan karena dengan membawa sepeda motor, kami bisa melihat pemandangan dengan jelas serta beberapa kali berhenti di sepanjang jalan untuk sekedar menikmati pemandangan, maupun ngobrol dengan petani-petani di perbukitan yang kami lihat sebelumnya. Saya sering mendengar dari orang tua di kampung saya bahwa dulu selain bersawah, ada 1 teknik lain dalam menanam padi, yaitu ngaga dengan hasilnya dinamakan padi gaga, teknik dimana para petani menanam padi di daerah perbukitan yang miring ataupun di tanah-tanah tegalan tanpa dialiri air, namun mengandalkan air hujan. konon katanya padi jenis ini bisa menghasilkan nasi yang paling enak, namun karena berkurangnya curah hujan serta beralihfungsinya lahan, membuat penanaman padi dengan teknik ini sekarang telah hilang di Bali, namun dengan keberuntungan, saya bisa melihat teknik penanaman ini di Bima. Hanya saja, untuk mencicipi padi jenis ini kami harus kembali 3 bulan berikutnya ketika masa panen tiba.

150221000000500017

150221000000500016
Zenith, Pak Tani dan Padi Gaga

150221000000520023150221000000520020150221000000520018

 

setelah berbincang-bincang dengan beberapa petani, kami melanjutkan perjalanan ke Wera. Disana ibunda dari Bang Alan ternyata sudah menyiapkan pondokan untuk kami tinggal serta serta makan malam berupa ayam bakar yang disiapkan sendiri oleh Ibunda Alan. sebuah keramahan khas nusantara. kami bermalam disitu, menikmati kesunyian pantai wera sambil ngobrol tentang berbagai hal. Orang bilang kenikmatan hidup bisa didapat dari hal-hal yang sangat sederhana . Dan kesederhanaan di rumah ini benar-benar bisa memberikan kepuasan dan kenikmatan yang sulit diinterpretasikan dengan kata-kata.

150221000000500014

150221000000500011
Fakir sinyal di teluk Wera

 

Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan selama 2 jam ke teluk Sape, bertemu dengan Bang Ayang dan Bang Oyang yang juga sahabat dari Bang Alan . rencananya akan menyebrang ke Pulau Sangeang, tapi oleh Bang Ayang kami diberi penjelasan bahwa ombak hari itu sedang kurang bersahabat serta jika hanya kami berdua yang menyeberang, biaya perahu akan menjadi sangat mahal. jadi kami hanya mampir di rumah bang Ayang, melihat-lihat teluk sape lalu kembali ke Wera dan menginap lagi disana.

150221000000500026150221000000500025

Pagi keesokan harinya kami berpamit ke Ibunda  Alan untuk kembali ke Bima dan merayakan tahun Baru di kota Bima. Oleh beliau kami diberika cindera mata berupa kain sarung buatan tangan yang ditenun sendiri oleh Ibunda Alan. Setelah berterima kasih dan berpamitan, kamipun kembali ke Bima. Sampai di Bima, kami hanya berkeliling kota melihat-lihat kota, dan akhirnya kami saampai di museum Asi Mbojo, museum kesultanan Bima. disini kami mengisi tangki pengetahuan kami dengan sejarah kesultanan Bima. Setelah makan siang kami kembali ke rumah pak Mukhtar beristirahat sebentar, lalu melanjutkan perjalanan keliling kota kami bersama pak Mukhtar serta putrinya , Ani Mukhtar.Kami megunjungi pantai Amahami, Kuburan para raja, serta berkendara ke titik-titik terluar kota Bima dan diakhiri dengan minum tuak aren di rumah salah satu kenalan pak Mukhtar sebelum kami pulang dan merayakan malam tahun baru dengan berbincang-bincang dengan keluarga kecil Pak Mukhtar sambil menikmati hidangan khas Bima yang dimasak oleh Ibu Ani.
Tanggal 1 januari, sebelum pulang ke Bali, Bang alan datang dengan tergesa-gesa ke rumah pak Mukhtar karena beliau baru saja datang dari kota Mataram, menjalankan tugasnya sebagai supur Bus malam. Setelah melalui obrolan yang panjang, akhirnya kami diantar ke Bandara untuk melanjutkan hidup kami di Bali.
Sebuah perayaan tahun baru yang sangat mengesankan bersama orang-orang baru yang memberikan kehangatan layaknya keluarga. Kota Bima, sebuah rumah bagi orang-orang berhati hangat, membuat kami ingin kembali kesana sekali waktu nanti.

 

150221000000460004
pasar kota Bima.

150221000000460005

150221000000520016

 

150221000000500023
Zenith di Museum Asi Mbojo
150221000000520013
Pantai Amahami Kota Bima
11392_10203546548608249_2653045676990902174_n
Zenith di Museum Asi Mbojo.
Advertisements

7 thoughts on “Akhir tahun di Kota Bima

  1. Aku juga berjanji kepada seorang penulis di Bima, beliau sangat semangat sekali mempromosikan kota Bima dan pulau – pulau sekitarnya. Namanya Pak Alan Malingi, beliau gemar menulis dongeng dan cerita rakyat.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s