Santai di Singaraja

7083990939_5bc899ae45_o

kalau ada yang nanya, apa yang membuatmu merasa beruntung terlahir di kota Singaraja? ada beberapa hal yang akan terlitas di kepala saya untuk menjawab pertanyaan itu. Pertama, multietnisitas  yang ada di kota ini membuat saya bisa memiliki teman dari berbagai latar belakang etnis dan budaya serta agama yang membuat saya merasa semakin kaya, kaya kaya dengan pengalaman. Kedua, Singaraja adalah salah satu kota tua yang memiliki latar belakang sebagai kota dagang. Pelabuhan Buleleng merupakan salah satu pelabuhan yang sangat Sibuk pada jaman Hindia-belanda maupun pada awal masa kemerdekaan ketika Singaraja ditunjuk menjadi ibukota dari provinsi Sunda Kecil,provinsi yang mencakup 3 pulau, Bali, Nusa Tenggara Barat serta Nusa Tenggara Timur. Jadi ada banyak sekali bangunan-bangunan tua yang berumur lebih lama dari usia orang tua saya, menjadi sebuah petunjuk bahwa ada banyak cerita yang terjadi di masa lalu. Cerita-cerita yang menjadi warna-warni kehidupan generasi lalu di kota ini.

12A (6)

Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman saya Omen serta pacarnya Ayu Wulan memutuskan untuk melakukan pemotretan di beberapa bangunan tua yang ada di Singaraja. pemotretan santai yang fun. Ada 2 rumah lama yang kami jadikan lokasi. Pertama adalah sebuah rumah tua bergaya eropa milik teman semasa SMP kami yang beberapa tahun terakhir digunakan sebagai gudang penyimpanan. kebetulan teman kami ini memiliki usaha aquarium, jadi gedung tua ini penuh dengan alat-alat aquarium yang diserakan begitu saja di beberapa ruangan. Rumah ini berlokasi di daerah Kampung Tinggi, kampung yang berada di dekat pelabuhan tua Singaraja yang kebanyakan dihuni oleh para pedagang dari dari luar, terutama China, Arab dan India. Bisa dibilang denyut ekonomi masa lalu sangat terasa di daerah ini bahkan sampai sekarang, dibuktikan dengan adanya beberapa pasar di sekitar daerah ini, seperti Pasar Anyar, yang oleh kebanyakan orang Buleleng menyebutnya dengan sebutan Pebean, serta ada juga Pasar Kebon yang terletak di sebelah timur Pelabuhan. Selain itu juga ada toko-toko tua yang dimiliki oleh masyarakat keturunan yang menjual barang-barang keperluan sehari-hari sampai dengan alat-alat pertanian,perabotan rumah tangga, perhiasan emas, rempah-rempah dan sebagainya.

Untuk rumah kedua, yang kami piliih adalah Roemah Soenda Ketjil. Sebuah rumah yang berlokasi di Jalan Ngurah rai, tepat di depan patung Singa Ambara Raja. Daerah yang penjadi pusat pemerintahan kabupaten Buleleng bahkan dari jaman kerajaan dulu. Rumah inipun dibangun dengan gaya Belanda dan ditempati oleh keluarga I Goesti Bagoes Oka, seorang pejabat Residen (Gubernur) provinsi Soenda Ketjil, yang beberapa tahun belakangan dijadikan markas oleh panitia Buleleng Festival. Selain itu rumah ini juga diubah menjadi café untuk tempat sekedar ngopi sambil ngobrol santai.

serta beberapa snapshot di beberapa sudut kota.

jadi sebenarnya, ada banyak hal yang masih bisa digali dari kota ini, tapi untuk sekarang ini, sepertinya kami masih menikmati menggali cerita kota ini sambil melakukan hal-hal menyenangkan, seperti memotret.

2015-11-24 08.35.292015-11-24 08.36.44AA0292015-11-25 10.17.412015-11-25 10.16.051A (0)2015-11-25 10.12.19

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s