Tigawasa.

FH000025

Hidup di Bali, memberikan banyak sudut pandang dalam melihat segala hal yang sedang terjadi di sekitar saya.Perubahan bentuk konstruksi sosial yang terjadi dengan cepat membuat banyak masyarakat Bali mengalami kesulitan beradaptasi dengan kemajuan jaman. tidak terkecuali dengan cara pandang serta cara hidup  orang Bali untuk “bertahan hidup”. Perubahan-perubahan ini memaksa orang Bali untuk terus mencoba mengaktualisasikan diri, beradaptasi, bahkan mengubah pola hidup agar bisa bertahan, khususnya masyarakat desa-desa yang ada di daerah pegunungan di Bali.

FH000006

Saya lahir dan tumbuh besar di desa Tigawasa, sebuah desa terpencil di daerah pegunungn di Bali utara. Dikenal sebagai salah satu desa Bali Mula (Bali Kuno) yang memiliki Bahasa serta adat yang sangat berbeda dengan desa-desa di Bali pada umumnya, membuat desa ini memiliki banyak sekali cerita yang bisa saya explore. Saya masih ingat bagaimana orang-orang tua di lingkungan saya sering bercerita tentang bagaimana kehidupan mereka di masa lampau. Ya, orang-orang tua di desa biasanya akan menjadi sangat melankolis ketika membicarakan kehidupan masa muda mereka, yang kemudian mau tidak mau akan dibandingkan dengan cara hidup anak-anak sekarang yang menurut mereka sangat jauh berubah. Hal-hal semacam ini yang seringkali memberikan saya sudut pandang baru mengenai apa apa saja yang sedang terjadi. mencoba menelisik sudut pandang mereka mengena permasalahan di masa sekarang, dan membuat saya sedikit mengerti tentang kekhawatiran mereka akan hilangnya nilai-nilai yang mereka warisi dari leluhur terdahulu. Salah satu hal yang paling menggelitik adalah bergesernya cara hidup anak muda di desa saya. saya masih ingat di tahun 2010-2011, masih ada beberapa petak sawah di belakang rumah saya. satau-satunya sawah yang tersisa di daerah pegunungan di desa Tigawasa. saya masih bisa menemukan antusiasme orang-orang dari mulai membajak sawah secara tradisional menggunakan tenaga sapi,  lalu menanam padi, Ngasgas (membersihkan gulma) di sela-sela tumbuhan padi yang sedang tumbuh sampai proses panen. Mungkin karena sawah ini adalah satu-satunya sawah yang tersisa di desa saya (sebagian besar sawah di Tigawasa beralih fungsi menjadi kebun cengkeh dan mangga di sekitar tahun 80an-90an) menjadikan kegiatan nguma (mengurus sawah) menjadi satu kegiatan yang langka dan bisa menjadi obat rindu para orang tua yang dulu juga memiliki uma namun sekarang beralih fungsi. ada semacam kelegaan yang saya lihat di raut wajah mereka. topik  obrolan mengalir begitu saja disertai gelak tawa. Sebuah pemandangan yang sangat menyejukan. Timbul semacam harapan bahwa hal ini akan terus terjaga sampai beberapa generasi ke depan. Keceriaan masyarakat mengurus uma, keterikatan yang terjalin dengan sangat harmonis dan senyum anak-anak yang begitu lebar menunjukan bahwa kita masih memiliki modal untuk membangun sebuah komunitas masyarakat yang mandiri, menjaga nilai-nilai luhur masa lalu, dan menapak masa depan tanpa rasa takut akan dilibas oleh derasnya arus modernitas.

FH020001

FH000102

Namun hal itu tak berlangsung lama. Pembangunan vila mulai merambah ke desa Tigawasa. Para pemuda banyak yang meninggalkan tanah dan beralih profesi menjadi buruh bangunan. mungkin karena uang yang didapat relatif lebih cepat daripada menunggu hasil pertanian yang harus menunggu masa panen tiba. Ya, hal inilah yang menjadi kekhawatiran para orang tua di desa, hilangnya ” budaya bertani” digantikan dengan budaya instan yang dijanjikan pariwisata. dan masih banyak kekhawatiran-kekhawatiran lain mengenai nilai-nilai masa lalu yang mulai terkikis oleh modernitas.

Saya sering berkhayal, seandainya saja modernitas, pariwisata serta kearifan lokal bisa berjalan beriringan, sejajar tanpa harus ada adu kekuatan yang mengharuskan tereleminasinya satu budaya olah budaya yang lain. saya masih bermimpi untuk menjadi petani yang sesuai dengan nilai yang dibayangkan orang-orang tua desa, tanpa harus merasa rendah diri menyapa seorang turis yang sedang lari pagi di pematang sawah dengan nike apparel serta gadget dengan running app yang melekat di tubuhnya.

saya masih menunggu saatnya untuk kembali dan menunjukan pada generasi selanjutnya bahwa gengsi, tidak bisa membeli kebahagiaan.

sawahFH010005FH010004FH000026FH000027FH000020

FH000018FH000097FH010001FH010019

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s